Category: KARYA SANTRI
-
Ayah Mana Peranmu?
Oleh: Sindy Zahra Labiibah Terdengar suara katak saling saut-menyaut. Menandakan bahwa pagi hari telah tiba. Namun, bukan cahaya sang mentari yang mengawalinya, melainkan suara gemericik hujan yang menenangkan pendengaran. Membuat siapa saja tak ingin cepat beranjak dari tidurnya, berpisah dengan kasur kesayangannya. Di sebuah kamar bernuansa coquette, tampak seorang gadis terbangun dari tidurnya. Ia melihat…
-
Kehidupan di antara Rimbunnya Hutan
Oleh: Naila IffaNur Faizza Tempatku memang terpencil, hamparan pepohonan yang meluas bak samudra. Kicauan burung-burung yang saling bersahutan. Raungan binatang yang memecahkan gendang telinga. Hanya ada jalan setapak yang mungkin jarang dilalui oleh orang. Inilah keadaan hutan sekitar tempat tinggalku yang sebenarnya. Lasmaya, gadis berparas cantik bak bidadari itu, hidup sebatang kara bersama adiknya, Abinaya.…
-
Kupu Biru Ibu
Oleh: Levin Elsada Inggara Pagi itu, langit berwarna pucat. Matahari seolah ragu menembus kabut tipis menggantung di halaman rumah, Agrira Vindyasa yang akrab disapa Asa kini 17 tahun usianya. duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang basah oleh embun. Suara ayam dari pekarangan tetangga terdengar samar, bercampur desir dedaunan yang disentuh angin. Ia menghela nafas…
-
Takdir di Ujung Perang
Oleh: Tabina Nabahatul Wasyfa Di sebuah kerajaan bernama Pulau Merak, hidup seorang putri bernama Dewi Arunika. Ia dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa terpenjara oleh takdir yang sudah ditentukan sejak lahir. Pertunangannya dengan Pangeran Aditya dari Kerajaan Sari—yang diatur demi aliansi politik—hanya menambah beban hidupnya. Suatu hari, Arunika pergi…
-
Pulang ke Pelukanmu
Oleh: Az-zahra Eka Yuliana Namanya juga hidup, kalau nggak ada masalah ya, nggak bervariasi. Tapi kamu pernah ngga, ngerasain gimana rasanya disayang sosok Ayah? Pagi ini benar-benar segar suara burung bernyanyi memberi alunan pada bumi. Angin pagi ini membuat tumbuhan menari-nari akibat mendengar alunan dari para burung. Matahari tersenyum memancarkan cahayanya begitu cerah, hingga menyorot…
-
Rapuh Tak Kunjung Sembuh
Oleh:Ahda Yulia Maghdalena Sore yang indah selalu saja menghadirkan senja diselanya. Warna orange itu membuatnya tenang dan merasakan ketenangan jiwa yang telah lama dinanti. Seperti biasanya seorang gadis duduk di ayunan tempatnya bercerita dan menangis merintih pada Tuhan. Sinar senja yang menyilaukan membuatnya menutup mata perlahan. Merasakan dinginnya hembusan angin yang terus saja mengelus lembut…
-
Dari Runtuh Menuju Utuh
Oleh: Yasmina Salsabila Pukul 22.30. Calla Rivendra, gadis berusia enam belas tahun, berdiri di tepi atap sebuah bangunan tua. Dari sana, ia menatap jalanan kota Jakarta yang masih saja ramai. Keramaian yang sudah terlalu biasa bagi sebuah kota metropolitan. Namun perlahan, pandangan Calla mulai memudar. Tubuhnya gemetar, seolah kehilangan daya untuk menyangga segala yang terasa…
-
Safe Zone Outside Safe Zone
Oleh: Izza Hilmi Faidullah Gema suara azan mulai menggaung di seluruh penjuru desa. Keindahan panorama swastamita yang menggoda di barat cakrawala membuat pagi terasa lebih hangat. Ayam jantan berkokok bersahutan, menambah riuh suasana. Asrama Putra pelan-pelan hidup; lampu-lampu menyala satu per satu, disusul teriakan para pengurus membangunkan santri. “Hayyaa… laa tastagriquu waqtan thawîlan… fatasarra‘ ilal…
-

Luncurkan Buku “Pulang ke Pelukan Ibu”, MA Al Islam Joresan Perkuat Tradisi Literasi di Madrasah.
Suasana khidmat dan penuh kebanggaan menyelimuti Aula Ibnu Hajar lantai II MA Al Islam Joresan pada Senin, 13 April 2026. Momentum berharga ini menandai peluncuran karya literasi monumental dari santri angkatan 2026, sebuah antologi cerita pendek berjudul “Pulang ke Pelukan Ibu”. Acara peluncuran ini diresmikan langsung oleh Kepala Madrasah Aliyah Al Islam Joresan, Bapak Imron…
-
Niatan
Oleh : Rajamilan Rabar Rahman Dani Kerajaan langit dengan gencar mengirimkan pasukan airnya menyerbu tanah peradaban manusia sore itu. Sang mentari yang biasanya meninggalkan jejak kemerahan saat menjelang malam terpaksa pamit lebih awal diantar oleh para awan kelabu. Barisan burung yang sering lalu lalang ke sana ke mari lebih memilih bersantai di sarangnya masing-masing. Aku,…