Kehidupan di antara Rimbunnya Hutan

Oleh: Naila IffaNur Faizza

Tempatku memang terpencil, hamparan pepohonan yang meluas bak samudra. Kicauan burung-burung yang saling bersahutan. Raungan binatang yang memecahkan gendang telinga. Hanya ada jalan setapak yang mungkin jarang dilalui oleh orang. Inilah keadaan hutan sekitar tempat tinggalku yang sebenarnya.

Lasmaya, gadis berparas cantik bak bidadari itu, hidup sebatang kara bersama adiknya, Abinaya. Ia tinggal di sebuah rumah terpencil di tengah hutan yang hanya bertetangga dengan wanita tua yang sudah menjanda sejak lama. Gadis itu kehilangan ayah ibunya sejak ia masih kecil karena kecelakaan.

Siang itu, awan hitam menampakkan batang hidungnya di angkasa. Suara guntur bernyanyi-nyanyi di udara. Rintik-rintik air telah jatuh membasahi kehidupan di hutan. Lasmaya kebingungan untuk mencari bahan makan sebab jalan Setapak yang sering ia lalui becek terkena lumpur. Ia pun mencoba mencari bahan makan di sekitar rumah, namun nihil tidak ada sedikitpun yang ia bisa temukan. Setelah itu, ia berpikir sejenak dan berinisiatif meminta sedikit makanan kepada wanita tua di samping rumahnya tersebut.

“Mbok.. ” panggil Lasmaya.

“Ada apa, kau ke sini gadis kecil.” jawab wanita itu. “Aku hanya ingin meminta sedikit makanan untuk aku dan adikku, Abinaya.” ucap Lasmaya.

“Apa? Minta makanan? Seenaknya saja minta makan kepadaku sedangkan aku juga kekurangan.” bentak wanita itu.

Lasmaya pun kaget dengan bentakan yang keluar dari mulut wanita itu. “Aku hanya bertanya Mbok, jika tidak ada aku juga tidak memaksa simbok.” ucap Lasmaya.

“Ya sudah, tunggu apalagi, pergi sana!” usir wanita tua

Lasmaya pun pergi dan berjalan menuju rumahnya untuk menemui sang adik.

“Dek, kakak belum dapat bahan makanan siang ini, jalan yang biasa kita lalui becek dan licin.” ucap Lasmaya dengan wajah lesu.

“Ayo kak aku bantu, apa kita perlu melewati jalan itu juga tidak apa apa Kak.” ucap Abinaya meyakinkan kakaknya.

Lasmaya pun menyetujui ajakan adiknya supaya bisa cepat sampai di kebun sayur yang biasa mereka datangi. Setelah lamanya berjalan, Lasmaya pun sampai di kebun dan beruntungnya lagi kebun tersebut baru selesai panen sehingga banyak sayur yang mungkin tersisa di sana. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berbadan tinggi berkumis lebat yang tak lain adalah pemilik kebun dan mendatangi kedua gadis tersebut.

“Siapa kamu, kok ada di kebunku?” tanya laki-laki itu. “Aku Lasmaya dan ini adikku, Abinaya, Paman.” jawab

Lasmaya dengan ramah

“Ada perlu apa kamu ke sini, mau mencuri kamu! ” tuduh laki-laki tersebut dengan wajah marah.

“Tidak Paman, kami hanya ingin mencari sisa sayur untuk makan siang ini.” jawab Lasmaya dengan jujur.

Laki laki tersebut merasa tak terima, ia pun kemudian memanggil penjaga yang setiap hari berada di kebun tersebut.

“Pak Slamet.. Kemarilah!” dengan senang hati Pak Slamet pun kemari dan alangkah terkejutnya ia melihat Lasmaya dan Abinaya yang setiap hari ia temui di kebun tersebut.

“Loh Nak, sejak kapan kamu ke sini.” “Baruu. “

“Pak Slamet sudah kenal dengan gadis pencuri ini!” Belum sempat Lasmaya menjawab, laki laki itu sudah memotongnya dan Pak Slamet pun menjelaskan bahwa gadis tersebut bukanlah pencuri.

“Maaf tuan sebelumnya, anak ini bukan pencuri. Ia setiap hari ke sini untuk mencari sisa sayur dan saya persilakan masuk tuan.”

“Apakah kebun ini milikmu Pak, kok dengan seenaknya Anda mempersilahkan orang lain masuk. Apa kamu pengen saya pecat Pak?” ujar laki-laki itu. Lasmaya pun kebingungan dan ia juga tidak mau Pak Slamet bertengkar dengan tuannya. Akhirnya Lasmaya angkat bicara.

“Sebelumya saya minta maaf Pak, sudah lancang setiap hari ke sini. Saya berjanji Pak untuk tidak ke sini lagi”. ucap Lasmaya dengan nada sedih.”

Tentang Penulis:

Naila Iffa Nur Faizza berasal dari Desa Mlarak, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Ia dapat dihubungi melalui surel nailafaizza7@gmail.com serta media sosial Instagram @nlacntip_ dan TikTok @nailarsz_. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada motto “Buktikan lewat tindakan, bukan cuma omongan,” sebagai komitmen untuk mengutamakan kerja nyata dan konsistensi dalam setiap langkah.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *