
Oleh: Sindy Zahra Labiibah
Terdengar suara katak saling saut-menyaut. Menandakan bahwa pagi hari telah tiba. Namun, bukan cahaya sang mentari yang mengawalinya, melainkan suara gemericik hujan yang menenangkan pendengaran. Membuat siapa saja tak ingin cepat beranjak dari tidurnya, berpisah dengan kasur kesayangannya.
Di sebuah kamar bernuansa coquette, tampak seorang gadis terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 05:03 WIB. Melihat itu, Ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai berpakaian, ia pun pergi untuk sarapan bersama keluarganya.
“Sarapannya jangan buru-buru Kak, pelan-pelan aja masih pagi. ” tutur bunda.
“Hehe, maaf Bun. Tapi, Aku gak bisa lama-lama takut udah ditungguin. ” ucapnya.
“Yaudah, hati-hati kalo gitu. ” ucap bunda.
Gadis itu segera menuju halaman rumahnya. Ia tersenyum, saat melihat kekasihnya yang sudah menunggunya.
” Maaf ya sudah nunggu lama?”
” Iya Rain, gapapa. Ya udah ayo berangkat.”
Ya, namanya Raina Meshazara. Gadis pintar berparas rupawan. Raina sangat menyukai warna pink dan coklat. Gadis itu lugu juga ceroboh. Namun, ia memiliki suara yang indah membuat siapa saja yang mendengarnya terhanyut dalam melodi- melodi yang ia nyanyikan.
Raina si pemilik mata teduh dengan senyum manisnya. Siapa sangka di balik keceriaannya itu, ia menyimpan banyak luka. Sejak kecil Ia jarang mendapat peran seorang Ayah. Terlebih setelah Ia mempunyai seorang adik. Raina merasa Ayahnya tidak adil kepada dirinya. Ia merasa iri ketika melihat adiknya diperhatikan oleh Ayahnya, dipeluk, dicium, juga dimanja. Sedangkan Raina? Ia belum pernah merasakan itu semua.
Bel pulang sekolah berbunyi. Raina segera menuju ke parkiran. Sesampainya disana, seorang cowok bertubuh tegap sudah menunggunya. Ia tersenyum kala Raina mendekat. Ya, dia adalah Al-Gava Jayden Adhytama. Kekasih Raina.
Gava mengusap kepala gadisnya dengan sayang. Dan mengacak rambutnya pelan.
“Mau pulang sekarang atau mau mampir ke mana dulu?” tanya Gava.
“Pulang aja. Aku gak sabar mau ngasih tahu Bunda sama Ayah, kalo ulangan matematikaku dapat nilai 100. ” ucap Raina kegirangan.
“Gemesnya pacarku. Yaudah ayo pulang.” ucap Gava sambil mencubit pipi Raina. Lalu memasangkan helm ke kepala gadisnya.
Kini Raina sudah sampai di kediamannya. Ia bergegas memasuki rumah. Terlihat Ayah dan Bundanya sedang asik mengobrol di ruang keluarga. Raina mulai mendekati mereka, lalu mengambil hasil ulangan matematika nya di dalam tas.
“Bunda, Ayah, tadi ulangan matematika Rain dapat nilai 100 lho. ” Ucap Raina penuh semangat.
” Wah bagus.” ucap Bundanya. Tak berselang lama. Riri, adiknya pulang dari sekolah. Ia berlari membawa sebuah kertas ulangan.
” Bunda, Ayah, lihat Riri dapat nilai 90.” ucap Riri.
“Oh ya? Wah pinter banget anak Bunda.” puji Bundanya. “Pinter banget. Hari ini gimana sekolahnya?” tanya Ayahnya.
Anak kecil itu naik ke pangkuan Ayahnya, lalu menceritakan tentang harinya di sekolah. Mereka tertawa bersama, mengabaikan Raina yang sedang menatap nanar ke arah mereka. Kapan Raina akan dipeluk seperti itu? Kapan Raina akan diperlakukan seperti adiknya?.
Raina beranjak menuju kamarnya. Ia berjalan gontai menuju balkon, duduk di sebuah bangku kayu. Raina menangis sesenggukan. Hatinya terasa sakit. Ini kesekian kalinya ia diabaikan oleh orang tuanya.
Samar-samar terdengar derap langkah mendekati Raina.
Sosok itu duduk di sebelah Raina, lalu mengusap kepala Raina. “Kenapa nangis?” tanya orang itu.
“Gava, sakit.” ucap Raina sesenggukan.
Sebenarnya rumah Gava dan Raina di satu komplek yang sama, dan sebuah kebetulan mereka adalah tetangga yang membuat balkon kamar mereka bersebelahan.
“Hei, kenapa? Cerita sama Aku.” ucap Gava.
“Gava? Kapan Aku dipeluk Ayah? Kapan Aku dimanja sama Ayah? Aku juga capek Gava.” Raina menghirup napas sejenak.
“Ayah, mana peranmu? Anak perempuan pertamamu ini juga ingin dimanja, ingin dipeluk, ingin diperhatiin.” ucap Raina semakin sesenggukan.
“Cup cup, udah ya nangisnya? Dengerin Aku, Kamu punya aku. Kamu bisa peluk aku kapanpun kamu mau. Kalau kamu capek, bisa cerita ke aku. Aku di sini. Aku akan mengapresiasi hal-hal kecil yang kamu lakuin. Jangan sedih Rain, Gava di sini.” tutur Gava lalu membawa Rain dalam dekapannya. Ya, Raina harus selalu ingat bahwa dirinya masih mempunyai Gava. Gava yang selalu ada saat suka dan duka. Gava yang mengapresiasi semua hal yang ia lakukan. Raina sangat menyayangi Gava, tapi Gava jauh lebih menyayangi Raina.
Bagi Gava Raina itu gadis hebat yang hanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Seorang Raina Meshazara itu dunia Al-Gava Jayden Adhytama.
Tentang Penulis:
Sindy Zahraa Labiibah berasal dari Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Ia dapat dihubungi melalui surel satriojagat737@gmail.comserta akun Instagram @lbiibah. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada motto “Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow,” sebagai pengingat untuk mengambil pelajaran dari masa lalu, menjalani hari ini dengan penuh kesadaran, dan menatap masa depan dengan harapan.
Leave a Reply