
Oleh: Az-zahra Eka Yuliana
Namanya juga hidup, kalau nggak ada masalah ya, nggak bervariasi. Tapi kamu pernah ngga, ngerasain gimana rasanya disayang sosok Ayah?
Pagi ini benar-benar segar suara burung bernyanyi memberi alunan pada bumi. Angin pagi ini membuat tumbuhan menari-nari akibat mendengar alunan dari para burung. Matahari tersenyum memancarkan cahayanya begitu cerah, hingga menyorot ke kamar gadis berumur 10 tahun itu.
“Bunda, bisa nggak jendelanya ditutup bentar? Naya mau tidur lagi.” rengeknya sambil menutupi wajah menggunakan bantal.
“No, ayo sayang, bangun. Udah jam segini kamu nanti terlambat.” ucap Anggita.
“Huft…. ” Kanaya menghembuskan nafasnya kasar, lalu pergi untuk mandi dan bersiap-siap sekolah.
“Bunda,” panggil Kanaya lirih
“Kenapa?” jawab Anggita dengan nada yang sama. “Ayah mana?” tanya Kanaya.
“Di ruangannya.” jawab Anggita.
“Ish! Ayah libur aja masih ada kerjaan!” gerutu Kanaya.
Anggita hanya terkekeh, sudah biasa memang Kanaya mengeluh seperti ini. Tapi, apa bundanya tahu akan perasaan Kanaya? Kanaya masih di posisi yang sama dengan raut wajahnya yang masih cemberut.
“Kapan sih ayah nggak sibuk?” ucapnya tiba-tiba membuat Anggita tersedak.
“Sabar Kanaya, ayah kerja juga buat kita.” “Iya bunda, Naya tahu tapi, temen Naya ayahnya sibuk juga nggak sibuk-sibuk banget. Setiap pagi juga ayahnya bisa nganter sekolah.” ucap Kanaya yang matanya mulai berkaca-kaca, dia tidak mungkin akan menahan airmatanya.
Pagi ini di sekolah Kanaya hanya diam duduk di kelas bersama Bara teman sebangkunya. Kanaya masih kesal dengan kejadian tadi pagi, tapi teman-temannya selalu saja mengejeknya. ayahnya emang ngga sayang sama Naya! Naya ngga punya ayah! itu beberapa cacian dari temannya yang bisa dibilang ia terima setiap pagi. Kesal, kesal, dan kesal! Itu selalu dirasakan oleh Kanaya.
Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB. Ayah, Bunda, dan Kanaya kini tengah makan bersama. Hening, itu keadaan saat ini hanya suara sendok yang terdengar. Hingga saat ayah ingin beranjak untuk kembali ke ruang kerjanya Kanaya mengeluarkan suaranya.
“Ayah,” panggilnya, yang dipanggil hanya diam sambil melihat ke arah Kanaya.
“Ayah bisa tidak kalau besok mengantar Naya ke sekolah?” tanyanya.
“NggaK, ayah sibuk.” jawab ayahnya.
“Yah? Pekerjaan Ayah sepenting itu ya? Ayah Sudah lupa kalo ayah punya Kanaya?” ucap Kanaya.
Sabima hanya diam lalu berjalan meninggalkan ruang makan.
“Ayah! Bisa nggak sih perhatiin Naya kaya ayah merhatiin kerjaan ayah?” teriak Kanaya lalu berdiri dari duduknya, Sabima menghentikan langkahnya.
“Ayah selalu bilang ayah sibuk kalo Naya butuh ayah, Naya tahu, Naya juga ngerti ayah itu kerja buat kita, tapi ayah udah kaya gila kerja.” lanjutnya, gadis itu sudah tak sanggup lagi membendung airmatanya. Tangisnya pecah, semua ingin ia keluarkan malam ini.
“Naya capek Yah, Naya capek! Setiap pagi teman-teman Naya bilang ke Kanaya, ayah Naya nggak sayang sama dia. Naya nggak punya ayah. Capek Naya dengernya! Capek Yah!! Bunda selalu ingetin Naya buat nggak benci sama ayah, tapi Naya nggak bisa. Naya juga mau tidur ditemenin ayah, jalan-jalan sama ayah, belajar sama ayah, dianter sekolah sama ayah, Naya juga mau! Tapi ayah selalu bilang sibuk, sibuk, sibuk, sibuk,” Sabima masih diam tak menjawab apapun.
“Ayah tahu nggak? Rasanya Naya kaya bener-bener nggak punya sosok ayah.” ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang makan.
Kanaya menangis di kamarnya. Ia sengaja mengunci pintunya agar bundanya tidak bisa masuk. Gadis itu menangis di dalam selimutnya. Menangisi persoalan yang sama setiap malam. “Huft,” Sabima menghembuskan nafasnya kasar sambil membuka pintu kamar Kanaya menggunakan kunci serep. Sabima melihat Kanaya dari ambang pintu sepertinya gadis itu sudah tidur. Pria itu mendekat ke arah Kanaya.
“Jangan ganggu Naya bunda!” ucap Kanaya. Dugaan Sabima salah putrinya itu belum tidur bahkan ia masih terisak.
“Naya, ini Ayah.” ucap Sabima, Kanaya yang mendengar itu langsung terbelalak kaget dari dalam selimutnya.
“Nay, Ayah minta maaf ya? Ayah sudah diceritain sama bunda. Ayah juga bingung Nay harus bagi waktu kaya gimana. Maafin ayah ya? Kamu boleh benci ayah, tapi tolong maafin ayah. Ayah sayang sama kamu, tapi ayah selalu dibuat sibuk sama pekerjaan. Maafin ayah ya?” jelas Sabima.
“Ayah, bisa temenin Naya tidur malem ini? Naya juga mau tidur dipeluk sama ayah.” ucap Kanaya dari dalam selimut. Sabima yang mendengar itu tersenyum tipis lalu tidur di samping Kanaya. Memeluk putri kecilnya hingga Kanaya tertidur lelap.
Tentang Penulis:
Az-Zahra Eka Yuliana berasal dari Desa Bedrug, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Ia dapat dihubungi melalui surel pritazahra092@gmail.com serta akun Instagram @az.zahraeka. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada prinsip bahwa tidak ada alasan untuk tidak selalu berbuat baik, sebagai wujud komitmen untuk menebarkan kebaikan dalam setiap langkah.
Leave a Reply