
Oleh: Levin Elsada Inggara
Pagi itu, langit berwarna pucat. Matahari seolah ragu menembus kabut tipis menggantung di halaman rumah, Agrira Vindyasa yang akrab disapa Asa kini 17 tahun usianya. duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang basah oleh embun. Suara ayam dari pekarangan tetangga terdengar samar, bercampur desir dedaunan yang disentuh angin. Ia menghela nafas panjang, seakan menimbang keberanian untuk menjalani hari. gerakan pelan meninggalkan ranjang menuju meja makan, seolah baginya setiap gerak adalah perjuangan.
Pagi itu Ayahnya “Djuhari”, kakak-kakaknya Adyasa a#yyu’ sang kakak pertama, Langga ferd#hato, dan Defrinca Try Tamora mengisi pagi dengan obrolan kecil. Asa duduk di kursi kosong bersampingan dengan Mora sang kakak ketiga, dan menjadi pendengar dari perbincangan keluarganya. Kasih keluarga itu selalu utuh. Namun, Asa tahu, meski banyak ruang untuknya bercerita dengan keluarga besarnya, namun semua punya lelah masing-masing. Ia tak ingin menambah beban dengan ceritanya. Meski begitu bibirnya tetap berusaha melukis senyum setiap hari. Di meja makan, Ibunya Wita Dewanti menatap Asa penuh kasih.
“Kupu biru Ibu sudah siap terbang hari ini?” tanya Ibu sambil menyuapkan nasi.
“Doakan langit tak kelabu ya, Bu.” Asa tersenyum tipis.
Ayahnya tersenyum tipis, kakak-kakaknya Ayyu’, Ferdhato, dan Mora bercanda seperti biasa. Mora, meski terkenal cuek, namun hari itu merasa sang adik seperti tak punya tenaga ia pun mengusap kepala Adeknya sekilas.
“Jangan lesu gitu, jadi keliatan banget lemahnya.”
Ucapnya ketus namun perhatian. Waktu berjalan seperti air yang diam-diam mengikis tepi. Kini asa tumbuh menjadi remaja yang sibuk dengan sekolah, dan organisasi, dunia terasa sempit baginya. Sering kali perutnya melilit, asam lambungnya menusuk. Saat di sekolah, ia beberapa kali ijin untuk pulang sekolah lebih dulu, namun tatapan guru dan teman-temannya menusuk lebih tajam.
“Pura-pura sakit lagi, ya?” bisik seorang teman.
Gurunya hanya menghela napas saat melihatnya.
“Asa, kamu harus serius. Jangan terus-terusan alasan
sakit.”Asa terdiam.
“Tidak ada gunanya menjelaskan. Tidak ada yang mau percaya.” ucapnya dalam hati. Asa hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Asa melangkah cepat, berharap menemukan sedikit ketenangan di tempat Latihan pencak silatnya nanti. Di mana tempat ia merasa diterima juga ia anggap sebagai rumah keduannya. Sampainya di rumah, suasana rumah terasa berbeda. Biasanya riuh oleh suara ibu di dapur, kini sunyi. Asa menemukan ibunya duduk di kursi, Dengan wajah pucat
“Ibu…ibu sakit? Kenapa nggak bilang kalau Ibu sakit?”
suara Asa bergetar.
“Ibu nggak mau bikin kamu khawatir. Lagian, kupu-kupu biru Ibu harus fokus tumbuh.” ibunya tersenyum tipis.
Asa sangat menghawatirkan keadaan ibunya, namun melihat sorotan cahaya jingga yang nyaris menghitam. Asa bergegas berpamitan dan segera menuju ke lapangan untuk melatih di organisasi pencak silatnya. Sesampainya di halaman lapangan, terdengar suara hentakan kaki berpadu dengan teriakan komando pelatih. Salah satu di antaranya Abfaz Abdraharja sosok pelatih sekaligus teman ceritanya menghampiri.
“Kamu kelihatan pucat, Asa. Baik-baik saja?”
Asa mengangguk.
“Baik, kok Kak. Cuma… lelah sedikit.” Sejak menjadi pelatih, Asa sering berbagi cerita dengan Abfaz. Ia tak ingin membebani keluarga dengan keluh kesahnya. Merasa selalu di dengar, menjadikan Abfaz bagai tempatnya bersandar, meski hanya dengan kata-kata sederhana.
Namun malam itu, tubuhnya seperti menyerah. Di tengah berlangsungnya melatih, ia mundur, mencari sudut gelap untuk menyendiri. Airmata jatuh tanpa suara.
“Semua berantakan, pertemanan, dunia sekolahku mengapa hancur bersamaan. sungguh bukan ini inginku” batinnya bergetar.
“Asa…, kalau hari ini berat boleh cerita… Jangan sendirian di sini.”
Sebelum Asa sempat menjawab, suara motor memecah keheningan. Seorang pria yang cukup terhormat bernama Srofky datang dengan tatapan curiga. Tak lain, ia pun salah satu pelatih terhormat di organisasi itu Tanpa bertanya tanpa peduli, ia menyeret Asa dan Abfaz ke tengah lapangan.
“Lihat! Apa ini pantas?” serunya lantang.
“Mereka berdua di tempat gelap sudut lapangan.” Tatapan orang-orang menusuk. Kata-kata mereka menghujani Asa.
“Memalukan!”
“Kupikir kamu anak baik…”
“Kamu bikin malu organisasi.”
Asa ingin menyatakan kebenarannya, tapi suaranya terkunci. Semua luka yang ia simpan pecah menjadi diam. Ia hanya berdiri, membiarkan kata-kata itu memukulnya.
Malam itu, Asa memutuskan tak lagi Kembali ke tempat yang semula ia anggap sebagai rumah keduanya. Sebulan penuh ia mengurung diri di kamar. Tangis menjadi teman tidur, sakit menyerang di tengah malam. Depresi yang menghantam, namun setiap pagi, senyumnya tetap merekah di hadapan keluarga seolah semua baik-baik saja.
Suatu malam, Ibu masuk ke kamar dan memeluknya. Asa menahan sesak, lalu berbisik di bahu ibunya.
“Maaf, Bu… sayap kupu biru Ibu patah. Orang yang kusebut terhormat itu menghancurkannya. Asa… terbungkam, Asa terbunuh tanpa darah.”
“Sayap bisa patah, tapi hatimu jangan mengikuti.” ucapnya lembut.
“Adek tahu nggak? Buat Ibu, asa itu tetap kupu-kupu biru untuk ibu.”
“Karena suatu saat nanti, kamu akan tumbuh cantik, bebas, dan membuat dunia sekitarmu bahagia. layaknya kupu- kupu, kamu juga akan terbang jauh dan tinggi kelak.” Asa hanya terdiam
Hari-hari berikutnya, Asa tetap memberanikan diri berangkat ke sekolah. Nilainya jatuh, pikirannya kacau, tapi ia mencoba mengendalikanya. Meski setiap sorot mata masih menusuk, meski tubuhnya masih sakit, ia berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan menyerah.
Ia teringat kata-kata sang Ibu di saat ia masih berusia 5 tahun kala itu.
“Dek, suatu saat nanti kamu akan terbang tinggi. Bawa Ibu melihat dunia. Karena Ibu percaya, anak bungsu Ibu kuat.”
Asa menarik napas panjang. “Aku akan kembali terbang, Bu. Entah kapan, tapi aku akan tetap berusaha terbang membawamu melihat dunia itu. Dan tak kan ku hiraukan berapa banyak mata yang menganggapku hina.” Sembari melukiskan senyum yang sempat sirna dan membangun tekad nya dengan penuh keberanian Kembali.
Tentang Penulis:
Levin Elsada Inggara berasal dari Desa Kaponan, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Ia dapat dihubungi melalui surel levinelsada6@gmail.com serta akun Instagram @levinelsss_. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada motto “Genggamlah dunia sebelum dunia menggenggammu,” sebagai dorongan untuk terus berusaha, mengambil peluang, dan mengarahkan masa depan dengan kesungguhan.
Leave a Reply