Rapuh Tak Kunjung Sembuh

Oleh:Ahda Yulia Maghdalena

Sore yang indah selalu saja menghadirkan senja diselanya. Warna orange itu membuatnya tenang dan merasakan ketenangan jiwa yang telah lama dinanti. Seperti biasanya seorang gadis duduk di ayunan tempatnya bercerita dan menangis merintih pada Tuhan. Sinar senja yang menyilaukan membuatnya menutup mata perlahan. Merasakan dinginnya hembusan angin yang terus saja mengelus lembut wajahnya.

Gadis itu bernama Alexa Raespati Queenzy, ia seorang gadis cantik dengan beribu luka yang disembunyikannya. Sampai pada akhirnya kepura-puraannya untuk bahagia justru merenggut kewarasannya. Ia sakit mental, ia mengidap OCD (Obsessive Complusive Disorder).

Tak terasa sudah hampir setengah jam ia duduk di ayunan, adzan Maghrib pun sudah mulai bergema. Alexa berjalan pulang ke istana kecilnya. Sesampainya di rumah, Alexa menyapa keluarganya, tapi seperti biasa keluarganya terdiam tanpa tanggapan.

“Plakk” tamparan keras mendarat dipipinya.

“Dasar anak gak tahu diri! Dibaikin malah makin ngelunjak, jam segini baru pulang dari mana saja kamu?!” tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah mamanya.

Alexa hanya terdiam tanpa berniat membalas ucapan mamanya. Kemudian memasuki kamar dan menguncinya, menatap dirinya yang menyedihkan di dalam cermin.

“Apa aku gak boleh buat bahagia? Apa mama tak menyayangiku? Apa aku masih dianggap anak olehnya?” Ribuan pertanyaan bersarang di otaknya, ingin rasanya Alexa berteriak meluapkan rasa sakit yang ia rasakan. Pagipun tiba, jam menunjukkan pukul enam, Alexa sudah siap dengan seragam abu-abu dan tas ranselnya. Pagi harinya terasa sama saja, Alexa berjalan menuruni anak tangga. Ia melihat keluarganya sedang asik tertawa satu sama lain, namun saat Alexa mendekat, keluarganya terdiam menatapnya sinis.

“Alexa berangkat dulu ya Ma!” pamit Alexa sambil mengulurkan tangannya, namun tak kunjung disambut.

“Sudahlah apa yang harus aku harapkan lagi.” monolognya dalam hati.

“KRINGGG”

Lonceng sekolah telah berbunyi, pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai.

“Baiklah mari kita bagi kelompok untuk mata pelajaran saya.” ucap Bu Amora guru Bahasa Indonesia di kelas Alexa.

Ini sangat tidak Alexa sukai, di mana ia harus mendapatkan nilai merah kala belajar kelompok. Bukan Alexa tak mau kerja, namun teman-temannya yang selalu menghalanginya saat ia ingin membantu, jahat bukan?

“Alexa, Zafela, Elvino, Adelio, dan Keana. Kalian bahas tentang struktur teks argumentasi.” ucap Bu Amora.

Ditambah Alexa sekelompok dengan orang yang sering membullinya.

“Kamu kerjain nih.” ucap Zafela sambil memberikan kertas yang harus diisi kepada Alexa.

Alexa mengerjakannya sendiri, mereka sibuk dengan handphonenya masing-masing.

Setelah selesai, saat Alexa hendak memberi nama, Keana langsung menarik kertasnya. Menulis nama anggota dan nama Alexa dengan pulpen merah.

“Lah aku kan yang ngerjain, masa aku dimerahin?” protes Alexa pada Keana.

“Aku suka aja nulis nama kamu pake pulpen warna merah, salah?” jawab Keana dengan senyum smiriknya.

Elvino mengumpulkan kertas itu ke meja Bu Amora. Sudah dipastikan Alexa akan maju ke depan, karena namanya tertulis merah. “Alexa Raespati Queenzy, maju kamu!” ucap Bu Amora.

Alexa maju, ia mendengar bisik-bisik temannya yang membicarakannya.

“Kenapa setiap pelajaran kelompok, kamu tidak pernah bekerja?!” tanya Bu Amora dengan nada tinggi.

“Percuma saja saya ngerjain, kalo ujungnya mereka tetap menulis nama saja pake pulpen merah.” jawab Alexa lantang. Alexa mengambil buku tulisnya, kemudian memberikannya kepada Bu Amora.

“Saya kerja kok Bu, malah saya sendiri yang kerja. Kalo gak percaya samain aja tulisan saya.” Bu Amora mengangguk paham, entah ada keberanian dari mana ia melakukannya.

“Zafela, Keana, Elvino, dan Adelio ikut ke meja saya!” ucap Bu Amora lalu melangkah keluar meninggalkan kelas.

Alexa jalan ke arah mejanya, bahunya sengaja ditabrak oleh mereka berempat.

“Dasar cepu! Tukang ngadu!” ucap mereka saat melewati Alexa. Alexa tetap diam dan kembali ke mejanya. Ia sangat lelah.

“KRINGGG”

Tepat jam empat sore, lonceng sekolah berbunyi tanda pelajaran selesai. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas dan meninggalkan sekolah untuk pulang ke rumah. Namun tidak dengan Alexa, ia melangkahkan kakinya untuk pergi ke makam papanya. Setelah pulang dari ziarah, Alexa menuju tempat di mana ia merasa tenang di sana. Saat melewati lapangan tempat anak- anak biasanya bermain, tiba-tiba ada seorang anak yang menghalangi jalannya.

“Ada apa dek?” tanya Alexa pada anak itu.

Namun bukannya menjawab pertanyaan Alexa, anak itu malah menimpalinya dengan tertawa.

“Dasar anak yatim!” “Dasar anak yatim!” “Gak punya bapak hahahaha” sontak teman-temannya yang lain ikut menertawakan Alexa. Alexa berusaha tak peduli atas apa yang mereka lakukan. Akhirnya sampai juga ditempat itu Alexa duduk di ayunan seperti biasanya.

“Tuhan, boleh aku bercerita? Aku lelah Tuhan. Bawa aku pergi. Aku merindukanmu Tuhan.

Tentang Penulis:

Ahda Yulia Maghdalena berasal dari Desa Tugu, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Ia dapat dihubungi melalui surel ahdayulia1107@gmail.com serta akun Instagram @daa.ylnaa. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada motto “Dipuji tak terbang, dihinatak tumbang,” sebagai pengingat untuk tetap rendah hati dalam pujian dan tetap tegar menghadapi ujian.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *