Dari Runtuh Menuju Utuh

Oleh: Yasmina Salsabila

Pukul 22.30.

Calla Rivendra, gadis berusia enam belas tahun, berdiri di tepi atap sebuah bangunan tua. Dari sana, ia menatap jalanan kota Jakarta yang masih saja ramai. Keramaian yang sudah terlalu biasa bagi sebuah kota metropolitan. Namun perlahan, pandangan Calla mulai memudar. Tubuhnya gemetar, seolah kehilangan daya untuk menyangga segala yang terasa berat di dada. Langkah kakinya bergerak pelan menuju tepian. Napasnya tersengal, tapi Calla berusaha menenangkan diri. Ia memejamkan mata, lalu menambah langkah pelan—sangat pelan—hingga tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.

Grep.

Seseorang menarik lengannya tepat sebelum tubuhnya benar-benar jatuh. Calla membeku. Ia masih memejamkan mata, tak berani membuka.

“WOY!” suara berat itu membuyarkan ketegangan

malam.

Calla  membuka  mata  perlahan.  Tangannya  masih

tergenggam erat oleh seseorang. Di hadapannya, Mahendra Zhafran Leandre, teman sekelasnya yang terkenal dengan selera humor recehnya, menatapnya dengan mata yang entah kenapa kali ini tampak sungguh-sungguh.

“Lu gila ya, Call? Ngapain naik ke sini?” suaranya datar,

tapi nada panik tak bisa ia sembunyikan.

Calla diam. Napasnya tercekat, matanya basah. Zhafran menghela napas pelan, lalu menuntunnya menjauh dari tepi atap. “Kenapa, hah? Kenapa sampai punya pikiran gila gitu?” “Aku—aku tadi cuma jalan-jalan, terus gak tahu kenapa

bisa sampai sini. Aku juga gak apa-apa,” elak Calla.

“Beneran gak apa-apa? Tapi kenapa mata itu basah?” katanya pelan.

Zhafran       tahu,       kalimat       sederhana       sering menyembunyikan luka yang tak sederhana.

Beberapa jam lalu

BRAG.

PRANG.

DUG.

Suara benda berjatuhan dari atas meja.

“Calla! Kalau ditanya itu dijawab yang benar! Ingat, kamu itu sudah enam belas tahun! Kamu dari keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan! Kalau ditanya soal cita-cita selalu saja mengelak! Iya, lah—kamu kan gak pernah memikirkan soal itu! Padahal di sini kami mati-matian mencari uang demi masa depanmu! Ke mana dirimu yang dulu? Yang selalu mengejar prestasi? Mengapa sekarang hanya bermain-main tidak jelas, tidak punya prestasi, hanya membuat malu keluarga dan—”

“Cukup, Papa!” potong Calla.

“Aku jadi seperti ini, kehilangan arah, tidak tahu mau ke mana, itu juga karena Mama dan Papa yang berubah semenjak ada adik!”

“Halah! kamu selalu saja membantah. Sana, pergi ke kamarmu! belajar! Jangan hanya bermain-main tidak jelas!” tegas ayah Calla.

Calla menunduk, berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika pintu kamar menutup di belakangnya, air matanya jatuh tanpa suara. Beberapa menit kemudian, jendela kamar terbuka. Langit malam memanggil, dan Calla melangkah ke luar.

Kembali ke malam itu.

Calla menghela napas. “Iya, tadi aku ada sedikit masalah.

Tapi serius, aku gak tahu kenapa bisa sampai sini.”

“Oke-oke, gue percaya,” jawab Zhafran, sedikit terkekeh. “Btw, kamu tadi kenapa bisa sampai sini juga?” tanya Calla.

“Tadi gue nongkrong di warung kopi depan gang,”

Zhafran mulai menjawab.

“Terus liat lu lari kayak orang dikejar setan. Gue pikir mau

syuting film horor.” Calla menoleh cepat, wajahnya terkejut.

“Heh, becanda.”

Untuk   pertama   kalinya   malam   itu,    Calla    nyaris tersenyum. Zhafran berdiri, menepuk debu di celana.

“Udah, yuk pulang.”

“Gak mau! Aku gak bisa pulang lewat pintu depan. Lewat jendela kamarku juga susah,” tolak Calla.

“Yaudah, gue antar sampe rumah. Gue bantu lo masuk

lewat jendela.” Calla menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.

Setelah berhasil membantu Calla masuk rumah, sebelum pergi, Zhafran sempat berucap pelan,

“Besok duduk sama gue aja di kelas, biar gak bosen sendirian.”

Calla hanya mengangguk kecil, bibirnya menahan senyum samar.

Keesokan paginya, sekolah terasa berbeda. Calla duduk di sebelah Zhafran. Awalnya canggung, tapi Zhafran selalu punya cara mencairkan suasana entah dengan lelucon bodoh, atau wajah sok serius waktu pelajaran matematika. Perlahan, Calla mulai berani bicara, mulai tertawa. Teman-teman yang dulu hanya menatap kini mulai menyapa. Dari satu bangku, dunia Calla tumbuh kembali.

Ia menemukan dirinya di lembar-lembar pelajaran, di diskusi kecil bersama Zhafran, di keberanian untuk menjawab di depan kelas. Ia mulai tahu, ternyata dirinya tak hilang, hanya sempat terlupakan. Namun waktu berjalan. Zhafran yang dulu ramai kini mulai diam. Tatapannya tak lagi sering mencari Calla. Dan anehnya, Calla tak menangis.

Ia menatap langit yang sama seperti malam di gedung tua itu, tapi kali ini dengan hati yang utuh. “Terima kasih, Zhaf,” ucapnya pelan sambil tersenyum.

“Aku udah bisa berdiri sendiri sekarang.” Dan langit kota Jakarta, untuk pertama kalinya, terasa terang bagi Calla Rivendra.

Tentang Penulis:

Yasmina Salsabilla berasal dari Desa Kranggan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo. Ia dapat dihubungi melalui surel yasminasalsabila0@gmail.com serta akun Instagram @Tseminn. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada   prinsip   untuk   senantiasa melibatkan Allah dalam setiap langkah, menyadari bahwa tanpa pertolongan-Nya seseorang tidak akan sampai pada fase yang dijalani saat ini maupun fase-fase berikutnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *