
(Catatan kecil: Imron Ahmadi)
Selama ini, dunia mengenal R.A. Kartini melalui korespondensi berbahasa Belanda yang tajam. Namun, sejarah mencatat sebuah fajar baru bagi pemikirannya saat ia bertemu dengan Kyai Sholeh Darat, seorang ulama besar nusantara asal Semarang.
Dalam sebuah pengajian di rumah Bupati Demak, Kartini terpaku mendengar penjelasan tafsir Surah Al-Fatihah. Momen inilah yang meruntuhkan kegelisahannya selama ini: keinginan untuk memahami pesan Tuhan tanpa terhalang tembok bahasa. Kartini bukan sekadar bangsawan yang berjuang; ia adalah seorang santri yang mencari hakikat ilmu melalui kedekatan spiritual.
Kartini melihat Kitab Pegon bukan sekadar deretan aksara Arab berbahasa Jawa, melainkan simbol perlawanan yang sunyi namun tajam. Melalui naskah-naskah Pegon, ilmu pengetahuan menjadi inklusif. Kartini meyakini bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap perempuan. Semangat santri dalam mendalami teks klasik mencerminkan kegigihan Kartini membongkar sekat kebodohan kolonial.
Atas permintaan Kartini yang haus akan makna, Kyai Sholeh Darat menulis tafsir Faidh ar-Rahman—tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon. Inilah wujud nyata emansipasi intelektual; di mana teks suci tak lagi “terkunci”, melainkan dapat diresapi oleh pribumi.
Dalam metode makna gandul, makna disisipkan di sela-sela baris kitab. Hal ini selaras dengan perjuangan Kartini yang dengan cerdas menyisipkan gagasan kebebasan di tengah batasan tradisi feodal yang kaku.
Judul legendaris buku Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Duisternis tot Licht), memiliki keterkaitan mendalam dengan akar literasi santrinya.
Banyak cendekiawan meyakini bahwa frasa ini merupakan kristalisasi dari ayat Al-Qur’an: Minazh-zhulumaati ilan-nuur (Keluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya). Melalui bimbingan Kyai Sholeh Darat, Kartini menemukan bahwa esensi perjuangan adalah proses transisi: dari kegelapan kebodohan menuju terangnya ilmu pengetahuan. Literasi menjadi obor yang ia gunakan untuk menembus kegelapan pingitan dan kolonialisme.
Jejak revolusi Kartini beririsan dengan Tafsir nilai-nilai luhur yang hingga kini menjadi fondasi dalam dunia pendidikan:
- Istiqlal (Kemandirian): Menjadi perempuan yang berdaya secara pemikiran dan aksi.
- Musawah (Kesetaraan): Menegaskan bahwa cakrawala ilmu pengetahuan tidak mengenal gender.
- Khidmah (Pengabdian): Memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui jalur literasi.
Menurut RA Kartini tentang pentingnya belajar Agama dalam kehidupan tertulis dalam literasinya:
”Agama memang harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!”. R.A. Kartini.
Di era digital ini, semangat Kartini dan tradisi kitab Pegon harus bertransformasi menjadi Literasi Digital yang Memberdayakan.
Santriwati masa kini adalah pewaris pena Kartini—mereka yang berani menuliskan gagasan, mengelola data dengan bijak, dan memastikan pelayanan informasi berjalan transparan. Mari kita teruskan estafet perjuangan ini dengan menjaga akar tradisi di tengah arus modernisasi, demi mewujudkan generasi yang unggul dalam data dan pelayanan.
Selamat Hari Kartini.
Mari terus menghidupkan api revolusi pemikiran, dari bilik pesantren hingga jendela dunia.

Leave a Reply