Safe Zone Outside Safe Zone

Oleh: Izza Hilmi Faidullah

Gema suara azan mulai menggaung di seluruh penjuru desa. Keindahan panorama swastamita yang menggoda di barat cakrawala membuat pagi terasa lebih hangat. Ayam jantan berkokok bersahutan, menambah riuh suasana. Asrama Putra pelan-pelan hidup; lampu-lampu menyala satu per satu, disusul teriakan para pengurus membangunkan santri.

“Hayyaa… laa tastagriquu waqtan thawîlan… fatasarra‘ ilal masjid!” Para pengurus berteriak lantang di depan kamar, mengetuk satu per satu pintu yang seakan tak ada habisnya, sambil menenteng semprotan air sebagai senjata pamungkas.

Hooaam… aku menguap sambil mengerjapkan mata malas. Semalam aku tertidur dengan tumpukan tugas—layaknya staf administrasi pemerintah yang belum digaji tiga bulan. Kugapai sarung dan kemejaku, lalu berangkat menuju masjid sambil bergumam,

“Ya Allah hari libur kok rasanya seperti hari kiamat kecil.”

Perkenalkan, aku Syarif, santri tahun kelima yang sedang berada di masa penuh aturan dan regulasi kepengurusan. Bagi kebanyakan santri, hari Jumat adalah surga kecil: hari libur. Tapi tidak bagiku, Jumat justru menjadi hari di mana tugas-tugas menumpuk seperti gunung yang sedang tumbuh.

“Oiya,”, aku sontak teringat sesuatu. Orientasi Kepengurusan. Agenda yang, yah, bisa dibilang setengah rahasia karena ada “tambahan” materi yang hanya panitia tertentu yang tahu.

“Hei! Kamu mau wudhu nggak? Jangan melamun, gantian!” seru seorang santri, setengah kesal.

“Afwan, akhî.”, dalam hati aku terus dilanda gejolak batin tak berkesudahan.

Plakk. Sebuah tamparan punggung membuatku tersentak.

“Ente kenapa?” tanya Munir, yang sejak tadi menatapku dengan mata selidik seperti detektif kampung.

“Lho kamu yang kenapa tiba-tiba mukul aku?” protesku.

“Maaf, bercanda, hehe” ujarnya sok polos.

“Bercanda udelmu,” sahutku kesal.

“Serius, ente mikirin apa? Kayak orang patah hati.” aku tidak menjawab.

“Jangan-jangan teringat Ning Wara ya?” celetuknya.

“Ngawur!” sergahku sambil mencubit pinggangnya. Ia malah tertawa terbahak-bahak.

“Nir, nanti kamu tolong ijinkan aku ya!” ujarku akhirnya.

“Ijin? Ijin apa?”.

“Agenda nanti itu lho,” jawabku sambil mengedipkan mata.

Agenda yang bahkan sebagian pengasuh pondok pun tidak tahu detailnya. Saking tertutupnya, orang-orang menyebutnya ‘Safe Zone di luar Safe Zone’, agenda yang hanya boleh diakses oleh mereka yang dipercaya.

“Emangnya kamu mau diijinin apa?” tanya Munir.

“Terserah kamu, mau alasan sakit boleh, pulang boleh, ma syi’ta. Yang penting hari ini aku mau beresin tugas dulu.” Munir menggaruk ubun-ubunnya yang tidak gatal.

Selepas salat Subuh, halaman masjid mulai sepi. Santri- santri berangsur kembali ke kamar atau menuju dapur untuk mencari teh panas. Aku dan Munir berjalan berdampingan. Angin pagi menusuk lembut.

“Nir, serius ya. Agenda itu penting,” ujarku pelan.

“Penting seberapa? Sepenting nembak Ning Wara?” Munir melirik.

“Kalau itu sih, lebih penting kegiatan ini,” sahutku cepat.

Munir terdiam, mungkin tak menyangka aku menjawab sejujur itu. Dan sontak ia langsung tertawa. Kami sampai di depan asrama. Suasana riuh. Beberapa santri mencuci sarung, sebagian menyapu lorong, sebagian merebahkan diri seperti korban bencana.

“Aku ke kantor pengurus dulu,” ujarku.

“Ngapain?”

“Ngambil map merah.” Munir kaget.

“Map merah? Yang isinya itu?” aku mengangguk pelan.

Map merah. Dokumen-dokumen arsip internal yang harus siap dipresentasikan pada agenda rahasia itu. Jika jatuh ke tangan yang salah? Bisa jadi bahan gosip sepondok. Aku membuka pintu kantor. Ruangan itu sunyi. Bau kertas, tinta, dan kipas angin tua bercampur jadi satu. Kutatap map merah yang terletak manis di atas rak. Saat kugapai, terdengar suara langkah cepat dari luar. Derapnya mendekat. Semakin jelas. Semakin tegas. Aku menelan ludah.

“Siapa?” pintu mendadak terbuka.

Seseorang berdiri di ambang pintu—membuat tubuhku refleks memeluk map merah erat-erat. Di ambang pintu berdiri seseorang dengan napas sedikit tersengal—pengurus senior, Kak Roziq. Sosok yang dikenal tegas, disiplin, dan punya radar bawaan untuk mendeteksi santri yang mencoba main belakang.

“Kamu ngapain di sini sendirian, Rif?” pandangannya langsung tertuju pada map merah di pelukanku. Aku membeku. Otakku muter cepat seperti kipas angin level tiga, tapi tetap tidak menemukan alasan yang masuk akal.

“Saya, saya Cuma, memastikan map ini tidak jatuh ke tangan yang salah, Kak,” jawabku setengah berani, setengah pasrah.

Kak Roziq mendekat. Langkahnya perlahan, menimbulkan tekanan psikologis lebih besar daripada ujian tafsir jilid akhir.

“Kamu tahu map merah ini untuk siapa?”

“Untuk agenda nanti siang.” aku menelan ludah.

“Kamu panitia?” tanyanya datar.Aku menggeleng.

“Kamu ditunjuk siapa untuk memegang itu?”Aku menggeleng lagi.

“Kamu sadar konsekuensi mengambil dokumen tanpa ijin?”

Aku mengangguk pelan seperti anak ayam kehilangan induk. Suasana tiba-tiba hening. Hanya terdengar suara jam dinding. Tik… Tok… seolah-olah sedang menghitung detik menuju eksekusi. Tiba-tiba Kak Roziq menghela napas, lalu tersenyum kecil.

“Syarif, Syarif… kamu memang nekat.”

“Pasti habis nih diriku.” aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku bergumam dalam hati.

“Tapi nekatmu ini yang kadang dibutuhkan.” tambah Kak Roziq.

“Maksudnya?” aku terkejut.

Ia menepuk pundakku.

“Kegiatan nanti itu sebenarnya kamu sudah digadang-gadang untuk jadi peserta utama sesi simulasi. Kami memang butuh orang yang bisa berpikir cepat, agak nakal, tapi tetap punya prinsip.”

“Jadi, saya nggak salah?” aku melongo.

“Nggak. Justru kamu lulus ujian pertama.”

“Ujian?”

“Ujian keberanian. Ujian inisiatif. Dan…” ia menunjuk map merah itu.

“Ujian apakah kamu cukup peduli untuk turun tangan meski tidak diminta.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

“Anggota pengurus itu bukan cuma yang taat aturan. Tapi yang ngerti kapan harus taat dan kapan harus melakukan sesuatu karena itu benar, bukan karena diperintah.” Lanjut Kak Roziq.

Dadaku terasa hangat. Campuran lega, bangga, dan sedikit bingung.

“Mulai hari ini,” lanjutnya, “kamu resmi kami beri akses Safe Zone kepadamu. Tidak semua santri bisa masuk. Dan kamu masuk, bukan karena privilege, tapi karena action.”

“Berarti saya ikut kegiatan rahasia itu?” aku mematung.

“Bukan hanya ikut,” katanya sambil berjalan keluar kantor, “kamu akan memimpin salah satu seksi kecil.”

“Lho kok—”

“Itu tugas barumu. Jadilah contoh. Jangan mengecewakan kami.”

Aku menatap map merah di tanganku. Ternyata jalan menjadi bagian dari Safe Zone Outside Safe Zone tidak serumit teori konspirasi para santri. Terkadang hanya berawal dari keisengan, keinginan membereskan sesuatu, dan keberanian mengambil risiko. Ternyata benar, terkadang Safe Zone itu bukan tempat aman, tapi tempat di mana kita akhirnya berani melangkah keluar dari zona nyaman. Dan hari itu, aku mulai melangkah.

Tentang Penulis:

Izza Hilmi Faidullah berasal dari Desa Kranggan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Ia dapat dihubungi melalui surel izzahilmi210@gmail.com serta akun Instagram @zaa.hilmy. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada motto Nulla tenaci invia est via—tidak ada jalan yang tak dapat dilalui bagi mereka yang tekun.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *