
Dalam upaya berkelanjutan meningkatkan mutu pembelajaran literatur Islam klasik, MA Al Islam Joresan menggelar workshop intensif Training of Trainers (TOT) Metode Al-Ghooyah. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu (14–15 Juli 2026) ini, bertempat di salah satu ruang pertemuan Al Islam dan diikuti oleh seluruh guru pengampu mata pelajaran Kitab Kuning.
Secara akademis, penguasaan kitab kuning (turats) merupakan pilar utama dalam menjaga sanad keilmuan Islam keagamaan. Namun, tantangan metodologis sering kali menjadi kendala bagi pembelajar pemula. Hadirnya TOT ini diproyeksikan sebagai solusi strategis untuk merevolusi teknik pedagogi membaca kitab tanpa harakat (kitab gundul) di lingkungan madrasah.
Metode Al-Ghooyah merupakan sebuah pendekatan kontemporer dalam pembelajaran gramatika bahasa Arab. Pendekatan ini berhasil menyederhanakan kaidah Nahwu dan Shorof yang kompleks menjadi formulasi langkah praktis yang mudah dicerna, bahkan bagi peserta yang berangkat dari titik nol (zero basic).

Dalam implementasinya, metode ini berfokus pada tiga tahapan akselerasi pemahaman:
- Pengenalan Dasar Nahwu-Shorof.
Memetakan posisi dan jabatan kata (seperti fa’il, maf’ul, mubtada’, dan khabar) menggunakan rumus-rumus taktis.
- Praktik Langsung (Tatbiq).
Mengikis jarak antara teori dan praktik dengan langsung menguji coba kemampuan membaca pada teks kitab Arab asli. - Optimalisasi Kamus & Penerjemahan.
Memahirkan teknik pelafalan (nutq) sekaligus pemaknaan kosakata secara efektif dan kontekstual.
Dengan karakteristik tersebut, metode ini sangat ideal untuk membantu santri maupun siswa pemula agar dapat menguasai gramatika dasar dan membaca literatur Islam klasik secara mandiri dalam waktu yang relatif singkat.
TOT kali ini menghadirkan Ust. Safrudin Rusdy sebagai pemateri utama. Secara epistemologis, metode yang diajarkan memiliki sanad keilmuan yang jelas dan otoritatif, yang bersumber langsung dari Ust. K.H. Abdurrohman dari Probolinggo selaku pencetus sekaligus konseptor awal Metode Al-Ghooyah.

Dalam pemaparannya, Ust. Safrudin Rusdy menyampaikan harapan besar terhadap keberlanjutan program ini:
”Kami berharap melalui pelatihan ini, para asatidz dan ustadzah tidak hanya menguasai metodologinya secara personal, melainkan mampu mentransfer energi pemahaman ini kepada para murid. Goal besarnya adalah menghilangkan stigma bahwa membaca kitab kuning itu sulit, serta melahirkan generasi muda yang taffaquh fiddin (paham agama) dengan basis literasi kitab yang kuat.”
Langkah progresif ini mendapat apresiasi tinggi dari Kepala MA Al Islam Joresan Imron Ahmadi,S.Ag. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kegiatan TOT ini merupakan investasi intelektual yang sangat mahal bagi masa depan madrasah.
”Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya TOT Metode Al-Ghooyah ini. Penguatan kapasitas guru adalah kunci utama. Ketika para guru pengampu sudah memiliki tools mengajar yang cepat dan menyenangkan, maka proses transformasi ilmu kepada murid di kelas akan jauh lebih efektif, adaptif, dan berbobot akademis,” ungkap Kepala MA Al Islam.
Melalui sinergi metodologi modern dan khazanah keilmuan pesantren ini, MA Al Islam Joresan optimis dapat terus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis-formal, tetapi juga kokoh dalam penguasaan khazanah keislaman klasik.

Leave a Reply