Niatan

Oleh : Rajamilan Rabar Rahman Dani

Kerajaan langit dengan gencar mengirimkan pasukan airnya menyerbu tanah peradaban manusia sore itu. Sang mentari yang biasanya meninggalkan jejak kemerahan saat menjelang malam terpaksa pamit lebih awal diantar oleh para awan kelabu. Barisan burung yang sering lalu lalang ke sana ke mari lebih memilih bersantai di sarangnya masing-masing.

Aku, seorang yang gagal, termenung menatap panorama kota, tenggelam dalam lautan pikiranku sendiri. Secangkir kopi yang sudah menjadi dingin, diam tak bergeming seakan menertawakanku atas kegagalan yang kualami selama ini.

Siang tadi, untuk kesekian kalinya kujatuhkan pesanan yang seharusnya aku hidangkan pada para pelanggan di restoran tempatku bekerja. Dan untuk kesekian kalinya juga aku terpaksa pulang kerja lebih awal atas saran dari atasanku.

Diriku pun tidak terlihat di mata kuliah pagi ini, memilih duduk termenung di pojok kamarku. Gundah gulana hati ini sebenarnya bahwa biaya kuliahku hampir ditanggung seluruhnya oleh bibiku yang masih melajang.

Pernah suatu hari, aku bertanya padanya tentang alasannya yang memilih untuk sendiri, tetapi nihil jawabannya. Dia tidak pernah memberi jawaban secara pasti. Mungkin karena terlalu fokus membanting tulang demi membiayai kuliahku, pikirku.

Orang tuaku, keduanya telah lama meninggalkan dunia ini, sehingga aku hanya hidup berdua dengan bibiku. Dia bahkan berkata padaku untuk tidak terlalu memikirkannya, fokus dengan tugasku sendiri.

Entah apa yang merasuki pikiranku, seketika terlintas dalam benakku untuk melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh setiap insan yang bernyawa di dunia ini. Segera kuhabiskan kopi yang sedari tadi mematung menemaniku, lalu kuberanjak dari tempat perlamunanku dan bergegas menuju atap apartemen tempatku tinggal.

Sesampainya di sana, hujan mulai meninggalkan medan peperangannya, menyisakan bau khas yang memanjakan indra. Namun, nampaknya bukan hanya aku seorang di tempat ini. Homo Sapiens, dengan jenis yang berlawanan dariku dan lebih muda dari bibiku mungkin, tetapi lebih tua dariku. Sekitar seperempat abad lamanya dia menapakkan kaki di bumi ini, mungkin.

Awalnya  aku  ingin  memperhatikannya  saja  dari  jauh, namun seketika niat awalku tadi berubah. Kulihat sepertinya memiliki niat yang sama denganku. Dia mulai melewati pagar pembatas gedung dan langsung berhadapan dengan lembah perkotaan dari tebing curam gedung apartemen. Entah apa yang merasukiku, atau sepertinya aku tidak ingin ada yang menyamai niatku saat itu. Seketika refleks kakiku menarik tubuhku untuk berlari dan menangkap tangannya. Kutarik tangannya untuk menjauhkannya dari tebing curam itu menuju tengah atap.

Perasaanku bercampur aduk. Entah karena telah menyelamatkan seseorang dari jemputan maut, mungkin. Juga niatku sebelumnya mulai memudar tersapu angin malam. Burung- burung di langit berganti shift dengan pasukan kelelawar yang bergerak cepat di udara remang. Serupa bebayangan meninggalkan gesekan tubuhnya di ujung cakrawala. Dia terduduk, basah kuyup bermandikan genangan air hujan, memandangiku dengan tatapan kosong.

“Maaf”, seketika kata itu keluar dari mulutku. Hening, tanpa jawaban. Aku mengulurkan tangan, berniat membantunya berdiri yang juga diterima olehnya.

“Ada rokok?”dia bertanya padaku. Aku mengangguk sembari mengambil permen asap itu dari sakuku, untuknya dan untukku sendiri. Satu titik cahaya terlihat di tanganku, lalu berpindah ke permen asap masing-masing, membakarnya. Canggung untuk beberapa saat ke depan. Kami hanyan menyaksikan lautan manusia  mengendarai  hewan  besinya.  Sebagian  dari  mereka kembali dari tempatnya mengais nafkah. Sebagian lagi baru akan mulai membanting tulang. Sisanya sudah sibuk dengan urusan dunia mereka sendiri.

“Untuk apa?”, dia menanyaiku.

“Bahkan aku juga tidak mengerti”, jawabku.

Hening lagi, seakan jeda dramastis di film-film aksi. Bedanya, kali ini hanya ada dua insan yang saling   berniat menghilangkan keberadaanya di dunia.

“Niatku   sebenarnya   sama   denganmu,   tetapi   entah mengapa   kini   niat   itu   memudar   saat   melihatmu   akan melakukannya”, aku bersuara.

“Manusia terkadang bisa menjadi aneh dan lucu untuk beberapa hal. Mereka dapat menyelamatkan hidup orang lain, sedangkan dirinya sendiri berada dalam ambang kematian. Manusia juga akan cenderung takut jika mengetahui waktunya telah tiba”, dia menimpaliku.

Percakapan empat mata yang memanjang juga lebar akhirnya terjadi antara kami. Saling bertukar pandangan, pikiran, dan solusi masing-masing. Entah mengapa aku kembali bersemangat    untuk    menjalani    kehidupanku esok  hari, meninggalkan niatku sebelumnya jauh di ujung cakrawala.

Purnama menerangi malam kota, ditemani angin dingin yang berlalu lalang tanpa tujuan. Sebelum berpisah, dia sempat memberikan kartu namanya padaku, mungkin jika ingin sesekali menghubunginya.

“Terima kasih, sekarang diriku sudah tenang.”, ucapnya. Awalnya aku tak mengerti apa yang diucapkannya saat

itu, karena kupikir akulah yang seharusnya mengatakannya. Dia pergi mendahuluiku. Menghilang di balik pintu atap gedung. Kureka ulang apa yang terjadi seharian ini dalam pikiranku. Sungguh hari yang panjang, bahkan juga kutemukan titik balik dalam hidupku. Sembari menyelesaikan babak terakhir bersama permen asapku, aku mencoba mencari profil sosial media perempuan itu yang tertulis di kartu namanya. Unggahan terakhirnya menunjukkan fotonya di atap gedung ini, tiga tahun yang lalu.

“Sebelum aku pindah ke sini.” gumamku.

Kubergegas menemui bibiku yang baru saja pulang dari tempat membanting tulangnya dan menanyakan padanya perihal perempuan tersebut. Bibiku awalnya tidak tertarik, namun setelah melihat foto di ponselku, dia akhirnya bercerita. Perempuan itu adalah tetangga apartemennya tiga tahun yang lalu, sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya dengan lompat dari atap gedung ini. Kekasih yang dia selamatkan dengan mendonorkan ginjalnya dan hampir meregang nyawa. Tetapi, laki-laki itu malah meninggalkannya demi wanita lain.

Awalnya aku tak percaya akan hal itu, pasalnya baru saja aku berbicara empat mata dengannya. Namun  setelah kutelusuri berbagai informasi di media sosial, aku menemukan berita yang sama persis dengan yang diceritakan bibiku, dengan waktu tayangan sehari setelah foto terakhir sang perempuan.

Aku kini mengerti maksud dari kata-kata terakhirnya, meskipun banyak pertanyaan yang kian memenuhi kepalaku. Tetapi masa bodoh, toh dunia terkadang menjadi aneh. Lebih baik kupejamkan mataku untuk bersiap memasuki lembaran baru esok hari.

Tentang Penulis:

Rajamilan Rabar Rahman Dani tinggal di Jl. Pramuka, Ronowijayan, Siman, Ponorogo. Ia dapat dihubungi melalui surel rajamilanrabar@gmail.com serta media sosial Instagram @milanoffeine. Dalam menjalani kehidupan, ia berpegang pada motto Nullius in verba— sebuah  prinsip  untuk  tidak  menerima sesuatu begitu saja tanpa pembuktian.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *