
Sinergi dalam pengembangan ilmu astronomi Islam (Falak) di Indonesia terus diperkuat. Pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, Observatorium Ibnu Syatir Pondok Pesantren Al Islam Joresan menerima kunjungan ilmiah istimewa dari Kepala Observatorium CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) Surakarta, Ust. AR Sugeng Riyadi.
Kunjungan ini merupakan langkah strategis dalam mempererat kolaborasi antar-lembaga pengamatan langit berbasis pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sekaligus menjadi ajang pertukaran keahlian dalam instrumentasi falak modern.

Pimpinan Observatorium CASA As Salam disambut langsung oleh jajaran pimpinan dan pengelola Pondok Al Islam Joresan. Hadir dalam pertemuan tersebut:
1.Ust. Usman Yudi (Pimpinan Pondok Al Islam).
2.Ust. Imam Sujono (Wadir Humas).
3.Ust. Imron Ahmadi (Kepala Madrasah Aliyah).
4.Ust. Ahmad Junaidi (Pembina Observatorium).
5.Ust. Safrudin Rusdy (Penanggung Jawab Observatorium).
6.Ust. Imam Mudhori (Koordinator Guru Falak).
Dalam sambutannya, Ust. Usman Yudi menyampaikan bahwa kehadiran tokoh astronomi sekaliber Ust. AR Sugeng Riyadi menjadi motivasi besar bagi para santri untuk terus mendalami sains langit.
Ust. Ahmad Junaidi selaku pembina memaparkan rekam jejak dan keberhasilan Observatorium Ibnu Syatir. Prestasi yang paling membanggakan adalah kontribusi nyata observatorium ini terhadap penentuan kalender Islam di tingkat nasional.
Hingga saat ini, hasil observasi dari Observatorium Ibnu Syatir telah menjadi rujukan resmi dalam penentuan awal bulan kamariah, baik oleh Kementerian Agama RI maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketelitian dalam pengamatan hilal dan akurasi data yang dihasilkan menjadikan Ibnu Syatir salah satu titik pantau (titik rukyat) yang diperhitungkan di Indonesia.
Mendengar pencapaian tersebut, Ust. AR Sugeng Riyadi memberikan apresiasi yang mendalam. Beliau mengakui bahwa dedikasi Al Islam Joresan dalam membangun fasilitas yang presisi tidak hanya bermanfaat bagi pesantren, tetapi juga bagi umat Islam secara luas dalam menjalankan ibadah.



Selain fasilitas yang mumpuni, kunci keberhasilan Ibnu Syatir terletak pada penguatan akademik. Ilmu Falak di Pondok Al Islam merupakan mata pelajaran wajib bagi seluruh siswa tingkat Madrasah Aliyah (kelas IV, V, dan VI).
”Kami ingin mencetak kader-kader ahli falak yang tidak hanya mampu mengoperasikan alat canggih, tetapi juga menguasai teori hisab yang kuat. Di sini, astronomi adalah bagian tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan santri,” tambah kepala Madrasah.
Kunjungan diakhiri dengan observasi bersama di kubah observatorium. Diskusi mengenai pemutakhiran alat dan metode rukyatul hilal menjadi agenda penutup yang produktif. Diharapkan, kolaborasi antara CASA As Salam dan Observatorium Ibnu Syatir akan terus melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu falak di tanah air.

Leave a Reply