Implementasi Pembelajaran Ilmu Falak: Siswa Al Islam Joresan Laksanakan Hisab Awal Ramadhan 1447 H.

Bertempat di teras Pendopo Ibadus Sholihin, Kamis, 29 Januari 2026, Al Islam Joresan kembali meneguhkan jati dirinya sebagai madrasah yang konsisten menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan astronomi Islam. Seluruh siswa kelas V Al Islam Joresan mengikuti Praktik Hisab Penentuan Awal Ramadhan 1447 H, sebuah agenda akademik penting dalam pembelajaran Ilmu Falak.

Kegiatan ini dibimbing langsung oleh guru-guru Ilmu Falak di bawah koordinasi Ust. Safrudin Rusdy, pakar sekaligus pengampu Ilmu Falak di MA Al Islam Joresan. Dalam praktik tersebut, para siswa dilatih menghitung posisi bulan dan matahari, membaca data astronomis, serta menganalisis hasil hisab secara cermat guna menentukan awal bulan suci Ramadhan 1447 H secara ilmiah dan syar’i.

Bagi para siswa, praktik hisab ini menjadi pengalaman belajar langsung yang sangat bermakna. Mereka tidak hanya mengaplikasikan teori yang dipelajari di kelas, tetapi juga mengasah ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab ilmiah dalam penentuan waktu ibadah yang berdampak luas bagi umat.

Kepala MA Al Islam Joresan, Bapak Imron Ahmadi, S.Ag., memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut. Beliau menegaskan bahwa Ilmu Falak merupakan mata pelajaran wajib dan menjadi ciri khas keilmuan MA Al Islam Joresan.
“Ilmu Falak adalah mahkota literasi santri di Al Islam Joresan. Kami ingin setiap lulusan memiliki kompetensi nyata dalam menentukan waktu ibadah secara mandiri dan ilmiah sebagai bentuk tanggung jawab kepada umat,” ujar beliau.

Pelaksanaan praktik hisab penentuan awal Ramadhan 1447 H ini selaras dengan visi BERKAH yang menjadi ruh pendidikan di MA Al Islam Joresan, yaitu:

  1. Berprestasi.
    Praktik hisab melatih siswa memiliki keterampilan falakiyah yang aplikatif dan terukur sebagai bentuk capaian prestasi akademik.
  2. Edukatif.
    Pembelajaran berbasis praktik langsung menjadikan siswa subjek aktif dalam proses belajar yang mendalam dan kontekstual.
  3. Religius.
    Penentuan awal Ramadhan secara akurat memperkuat kualitas ibadah dan kesadaran akan amanah keilmuan dalam urusan syar’i.
  4. Kolaboratif.
    Terbangunnya diskusi ilmiah antara guru pendamping dan siswa menciptakan budaya belajar yang dialogis dan partisipatif.
  5. Adaptif.
    Penggunaan metode hisab klasik yang dipadukan dengan data efemeris kontemporer menunjukkan kesiapan madrasah merespons perkembangan sains modern.
  6. Humanis.
    Ilmu yang dipraktikkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dipersiapkan untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Melalui kegiatan ini, MA Al Islam Joresan menegaskan bahwa visi BERKAH bukan sekadar jargon, melainkan nilai yang hidup dan terimplementasi dalam setiap proses pembelajaran, khususnya dalam penguatan tradisi keilmuan Ilmu Falak sebagai bekal pengabdian santri kepada umat.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *