Langkah Strategis MA Al Islam Joresan: Mengadopsi Spirit Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

by

in

Komitmen MA Al Islam Joresan dalam menghadirkan pendidikan yang memanusiakan siswa kembali ditegaskan. Melalui partisipasi aktif dalam Bimbingan Teknis (Bintek) Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), madrasah ini melangkah pasti menuju era pendidikan yang lebih empatik dan inklusif.
​Dua pendidik delegasi, Ust. M Syamsul Huda dan Ust. Annie Murtafi’ Amna, menjadi perwakilan resmi madrasah dalam forum yang digelar di Aula MAN 1 Ponorogo pada Selasa (6/1/2026). Kehadiran mereka merupakan bukti nyata keseriusan MA Al Islam Joresan dalam menjemput transformasi pendidikan modern yang mengedepankan pendekatan hati.

​Kepala MA Al Islam Joresan, Ust. Imron Ahmadi, memberikan apresiasi tinggi atas keterlibatan dua delegasi tersebut. Beliau menegaskan bahwa pengiriman guru dalam Bintek ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan bermartabat.
​”Kami mengirimkan delegasi terbaik bukan sekadar untuk memenuhi undangan, melainkan untuk menyerap ‘ruh’ dari Kurikulum Berbasis Cinta ini. Saya berharap Ust. Syamsul dan Ust. Annie dapat menjadi motor penggerak bagi rekan-rekan guru lainnya. Di MA Al Islam Joresan, kita ingin memastikan bahwa setiap anak yang datang ke madrasah merasa diterima dan dihargai, karena hanya dalam suasana penuh cintalah potensi intelektual mereka bisa mekar dengan sempurna,” ujar Ust. Imron Ahmadi.

Di bawah bimbingan fasilitator nasional, Dr. Nuruun Nahdiyyah dan Bekti Prasetyorini, delegasi MA Al Islam Joresan mendalami bagaimana konsep Panca Cinta menjadi solusi atas tantangan pendidikan masa kini. Konsep ini menekankan bahwa keberhasilan akademis siswa berakar dari rasa aman dan dicintai yang mereka rasakan di lingkungan sekolah.

​Implementasi KBC di MA Al Islam Joresan nantinya akan berfokus pada lima pilar transformatif:
Pertama, penguatan kebijakan madrasah yang selaras dengan nilai-nilai kasih sayang.
Kedua, internalisasi Panca Cinta yang mengintegrasikan cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, ilmu, dan lingkungan sebagai fondasi utama interaksi di dalam kelas.
​Ketiga, penerapan bimbingan teknis Konvensi Hak Anak (KHA) yang memastikan setiap kebijakan berpihak pada kepentingan terbaik santri.
Keempat, penguatan lembaga layanan Ramah Anak guna memastikan madrasah menjadi ruang aman yang bebas dari kekerasan, perundungan, maupun tekanan mental.
Kelima, penerapan pendisiplinan yang berbasis pada hak anak, di mana guru tidak lagi sekadar menjadi pengajar, melainkan mentor yang mendampingi tumbuh kembang santri dengan penuh empati.

​Ilmu yang didapatkan dari para pakar nasional tersebut akan segera disosialisasikan dan diinternalisasikan ke dalam sistem pembelajaran di lingkungan madrasah. Langkah ini diharapkan mampu membawa energi baru bagi seluruh tenaga pendidik di MA Al Islam Joresan.

​Dengan komitmen ini, MA Al Islam Joresan optimis dapat mewujudkan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga menjadi “rumah kedua” yang penuh cinta. Sebuah tempat di mana potensi fitrah setiap santri dapat berkembang optimal dalam suasana yang hangat, mendukung, dan religius.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *